Prediksi kenaikan harga bijih nikel tersebut dihitung dengan asumsi kenaikan corrective factor (CF) serta kadar air sebesar 35%—40%, kadar kobalt sekitar 0,07%, kadar besi 25%, dan kadar kromium 3%.
“Dalam jangka pendek, implementasi kebijakan yang melampaui ekspektasi telah mendorong harga nikel naik secara signifikan, dengan sentimen pasar yang cenderung bullish. Namun, dampak jangka menengah dan panjang bergantung pada efisiensi penerusan biaya, laju penyerapan persediaan tinggi, dan kapasitas penyerapan permintaan di hilir,” tulis SMM dalam riset terbarunya, dikutip Rabu (15/4/2026).
Sementara itu, pada produk nikel olahan atau refined nickel, SMM memprediksi biaya produksi nikel olahan dari nikel matte kadar tinggi pada smelter terintegrasi diperkirakan mencapai sekitar US$21.773/ton nikel, atau naik sekitar US$622/ton nikel dibandingkan dengan sebelum penyesuaian formula HPM.
SMM juga memprediksi biaya produksi nikel olahan dari MHP yang diproduksi sendiri, setelah memperhitungkan kredit kobalt, bakal mencapai US$20.560/ton nikel atau lebih tinggi sekitar US$2.652/ton nikel.
“Berdasarkan harga penyelesaian spot LME pada tanggal 14 April dan koefisien transaksi produk antara nikel (91,5% untuk MHP dan 92,5% untuk nickel matte kadar tinggi), biaya spot untuk memproduksi nikel murni dari nikel matte kadar tinggi yang dibeli dari pihak eksternal adalah US$18.705/mt Ni, dan biaya spot untuk memproduksi nikel murni dari MHP yang dibeli dari pihak eksternal adalah US$19.378/mt Ni,” tulis SMM.
“Kedua biaya tersebut lebih tinggi daripada harga nikel LME saat ini, yang menunjukkan dukungan biaya yang relatif kuat,” tegas SMM.
Adapun, Kementerian ESDM resmi mengubah HPM untuk penjualan komoditas mineral logam, termasuk bijih nikel dan bijih bauksit.
Aturan tersebut tertuang di dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 144/2026 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara. Aturan itu berlaku efektif mulai 15 April 2026.
Dalam aturan terbaru tersebut, formula HPM bijih nikel tidak lagi hanya mengacu pada kadar nikel, melainkan turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi (Fe), kobalt (Co), dan krom (Cr), serta faktor kadar air atau moisture content.
Dijelaskan bahwa kontribusi unsur tambahan hanya dihitung jika memenuhi ambang batas tertentu, seperti kadar besi minimal 35% dan kobalt minimal 0,05%.
Sementara itu, faktor koreksi atau CF juga ditetapkan berbeda untuk masing-masing komoditas, yakni 30% untuk nikel, besi, dan kobalt, serta 10% untuk krom.
Selain itu, penggunaan satuan juga berubah dari sebelumnya US$/dmt menjadi US$/wmt.
Sebelumnya dalam Kepmen ESDM No. 268 Tahun 2025, perhitungan HPM bijih nikel hanya didasarkan pada kadar nikel (%Ni), corrective factor (CF), dan harga mineral acuan (HMA) nikel.
Sekadar catatan, nikel dilego di harga US$18.206/ton pada Rabu (15/4/2026) di London Metal Exchange (LME). Harga nikel melonjak 2,87% dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
(azr/wdh)
© 2024 Mattmax | All Rights Reserved